Home / Hunian / Ini 6 Rumah Adat Sunda Yang Namanya Unik

Ini 6 Rumah Adat Sunda Yang Namanya Unik

Menjadi salah satu suku terbesar di Indonesia, Suku Sunda pastilah mempunyai rumah adat alias rumah tradisional. Rumah adat Sunda memiliki bentuk dan gaya yang hampir sama dengan rumah tradisional di Indonesia pada umumnya, yaitu berbentuk rumah panggung.

Ini 6 Rumah Adat Sunda Yang Namanya Unik

Kolong rumah adat Sunda fungsinya sebagai penanggulangan bencana seperti banjir. Selain itu, kolong dari rumah panggung ini juga sering dimanfaatkan pemiliknya untuk tempat binatang-binatang peliharaan seperti kambing, sapi, dan ayam.

Kalau tidak, kolong akan digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu, dan lain-lain.

Baca Juga: Mengenal Ragam Rumah Adat di Indonesia Yang Wajib Kamu Tahu

Secara tradisional, rumah adat Sunda berbentuk panggung dengan ketinggian 0,5 m – 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter.

Untuk naik ke rumah adat Sunda ini disediakan tangga yang disebut dengan Golodog. Golodog terbuat dari bambu atau kayu dan biasanya terdiri tidak lebih dari tiga anak tangga. Selain sebgai tangga, Golodog juga berfungsi untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah.

Filosofi Rumah Adat Sunda: Suhunan Yang Menghormati Alam

Seperti rumah tradisional yang lain, rumah adat Sunda juga memiliki filosofinya sendiri. Bahkan, rumah adat Sunda memiliki pemahaman yang sangat mengagumkan. Secara umum, nama suhunan (atap) rumah adat Sunda ini ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya.

Baca Juga: Rumah Adat Baduy: Harmonisasi antara Alam, Manusia, dan Kesederhanaan

Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda, sangat jarang juga ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern lainnya. Untuk penguat antar tiang, digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa.

Sedangkan bagian atap, rumah adat Sunda jarang sekali menggunakan genting. Rumah adat Sunda menggunakan ijuk, daun kelapa, atau daun rumia untuk atap penutup rumah. Memang hal menarik lainnya adalah mengenai material yang digunakan oleh rumah adat Sunda itu sendiri.

Pemakaian material bilik yang tipis dan lantai panggung dari papan kayu atau palupuh tentu tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan di komunitas dengan peradaban barbar. Sehingga, memang rumah adat Sunda bukanlah rumah yang dibangun untuk benteng perlindungan dari musuh manusia.

Rumah adat Sunda dibangun semata-mata untuk tempat berteduh dari hujan, angin, dan terik matahari. Bentuk panggungnya pun melindungi penghuni dari jangkauan binatang buas yang bisa datang kapan saja.

Rumah adat Sunda dibuat dari material yang didapatkan di alam dan dibuat agar manusia juga bisa hidup menyatu dengan alam. Inilah cara rumah adat Sunda menghormati alam.

6 Rumah Adat Sunda Yang Bentuk Atapnya Bervariasi

Rumah adat Sunda sebenarnya memiliki nama yang berbeda-beda bergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya. Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan Jolopong, Parahu Kumureb, Badak Heuay, Tagog Anjing, Julang Ngapak, dan Capit Gunting.

Baca Juga: Menyelisik Rumah Adat Mandar Suku Asli Sulawesi Barat

Dari kesemuanya itu, Jolopong adalah bentuk yang paling sederhana dan banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa.

1. Rumah Adat Sunda Jolopong

Rumah adat Sunda Jolopong merupakan rumah adat Sunda yang paling banyak ditemui di pedesaan. Jenis rumah adat Sunda ini memiliki bentuk yang paling sederhana dibanding lainnya.

Atapnya memiliki bentuk seperti pelana yang memanjang. Dalam pembuatannya pun tidak membutuhkan material maupun pernak-pernik yang berlebihan karena tidak ada lekukan rumit pada rumah adat Sunda Jolopong.

Jolopong memiliki dua bidang atap, yang keduanya dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang suhunan memiliki panjang yang sama dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap.

Rumah adat Sunda Jolopong terdiri dari beberapa ruangan. Ruang depan disebut emper atau teras, kemudian tengah imah yaitu ruang tengah. Ada juga pangkeng yaitu kamar dan dapur yang sering disebut dengan nama pawon.

Baca Juga: Pahami Hal-Hal Berikut Sebelum Memutuskan Sewa Apartemen Bekasi

Di dalam rumah ini, terdapat padaringan yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan beras. Selain itu mereka juga memiliki ruangan yang disebut dengan nama tepas. Ruangan ini digunakan untuk menerima tamu.

Uniknya, dulu tepas dibiarkan kosong tanpa perabotan, kemudian jika ada tamu mereka akan menggelar tikar. Jenis rumah ini akan banyak ditemui di daerah Garut tepatnya di Kampung Dukuh.

2. Rumah Adat Sunda Parahu Kumureb

Rumah adat Sunda Perahu Kumureb memiliki arsitektur yang lebih rumit dibandingkan Jolopong. Jenis rumah adat ini memiliki empat bagian utama di atapnya. Dua bagian di depan dan belakang yang berbentuk trapesium dan dua bagian di sisi kanan kiri yang memiliki bentuk segitiga sama sisi.

Pada atapnya terdapat dua batang kayu yang menghubungkan antar sisi sehingga akan terbentuk atap segitiga jika dilihat dari depan. Nama Parahu Kumureb sendiri memiliki arti perahu yang terbalik. Maka dari itu, atap dari rumah adat Sunda yang satu ini memang terlihat seperti perahu yang terbalik.

Namun, ketika musim penghujan tiba, atap ini mudah bocor karena banyak sambungan yang ada di atap. Rumah adat Sunda yang satu ini bisa dijumpai di daerah Kabupaten Ciamis tepatnya di Kampung Kuta.

3. Rumah Adat Sunda Badak Heuay

Rumah adat Sunda Badak Heuay ini memiliki makna yang cukup unik. Badak Heuay sendiri memiliki arti badak menguap. Tapi tidak hanya namanya saja yang unik, melainkan bentuk atapnya juga.

Rumah adat Sunda ini memiliki dua atap besar dan kecil. Bagian atap besar menaungi rumah bagian belakang, sedangkan atap kecil berada di bagian depan. Bagian depan ini adalah tempat untuk menerima tamu laki-laki.

Rumah adat Sunda Badak Heuay jenis ini akan mudah ditemukan ketika anda pergi ke Sukabumi.

4. Rumah Adat Sunda Tagog Anjing

Selain rumah adat Sunda Badak Heuay, suku Sunda juga memiliki rumah adat Tagog Anjing. Arti dari nama ini sendiri adalah anjing duduk. Memiliki bentuk atap segitiga dengan atap lainnya yang menghadap ke depan membuat rumah ini terlihat seperti anjing yang sedang duduk.

Sekilas bentuknya seperti Badak Heuay, namun, bedanya antara atap besar dan kecil disatukan dalam satu titik tengah, tidak juga memotong maupun terbuka seperti badak heuay.

Rumah adat Sunda dengan atap demikian akan banyak ditemui di daerah Garut. Bahkan di Garut, banyak bungalow dan hotel di sekitar puncak yang masih menggunakan atap jenis tagog anjing ini.

5. Rumah Adat Sunda Julang Ngapak

Masih berjibaku dengan nama-nama binatang, rumah adat Sunda yang satu ini memiliki arti seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya, Julang Ngapak. Hal ini dikarenakan rumah adat Sunda Julang Ngapak memiliki desain atap yang melebar ke samping kanan dan kiri.

Desain atapnya dilengkapi dengan cagak gunting pada bubungannya agar lebih kuat dan tidak mudah bocor. Rumah adat USnda ini akan mudah ditemukan di Kampung Dukuh Kuningan dan Kampung Naga Tasikmalaya.

6. Rumah Adat Sunda Capit Gunting

Rumah adat Sunda yang satu ini memiliki bentuk atap yang mirip dengan gunting. Di bagian ujung atap saling silang sehingga menyisakan hasil persilangan kayu atau bambu. Dulu, Capit Gunting merupakan salah satu nama dari susuhunan atau bentuk atap rumah.

Istilah nama susuhunan ini disebut undagi dimana undagi merupakan tata arsitektur rumah adat Jawa Barat.

Baca Juga: Tips Cara Aman Membeli Rumah Bekas

Rumah adat Sunda jenis ini memiliki bentuk yang sederhana, namun dikarenakan bentuk atapnya yang silang menjadikan rumah ini terkesan estetik dan cantik. Namun tidak banyak masyarakat Sunda yang membuat rumah adat jenis ini.

Nah, itu dia 6 jenis rumah adat Sunda yang bentuk atapnya bervariasi. Selain namanya unik, rumah-rumah adat ini punya bentuk atap yang juga unik, ya!

About sibyllineorder.org

Check Also

Bentuk dan Bahan Rumah Adat Joglo

Rumah Adat Joglo: Gambaran Sakral Tempat Tinggal Para Dewa

Rumah Adat Joglo adalah salah satu rumah adat yang hingga saat ini masih jadi primadona …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *