Home / Hunian / Ciri dan Filosofi Rumah Adat Limas Khas Sumatera Selatan

Ciri dan Filosofi Rumah Adat Limas Khas Sumatera Selatan

Kamu senang mengkonsumsi pempek? Ya, makanan berbahan dasar ikan tenggiri itu merupakan salah satu warisan budaya Sumatera Selatan, sama halnya dengan Rumah Adat Limas.

Meski sama-sama peninggalan budaya Sumatera Selatan, namun popularitas rumah limas boleh dibilang tidak setenar kenikmatan makanan khasnya.

rumah adat limas

Padahal, banyak sekali hal menarik yang dapat dipelajari dari rumah adat asli wong kito galo ini. Mulai dari ciri rumah adat limas, filosofi yang terkandung di dalamnya, dan masih banyak lagi

Simak Juga: Mengenal Ragam Rumah Adat di Indonesia Yang Wajib Kamu Tahu !!

Oleh sebab itu, hari ini saya akan memberikan penjelasan lengkap terkait rumah limas yang menarik untuk diketahui. Selengkapnya berikut ini.

Mengenal rumah adat limas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘limas’ merujuk pada bentuk atap bangunan yang merunjung ke atas. Sesuai arti namanya, begitulah kira-kira gambaran dari rumah limas.

Rumah adat limas biasanya berbentuk rumah panggung dan sebagian besar material bangunan rumah dibangun menggunakan kayu.

Gaya rumah panggung ini dinilai paling pas untuk diaplikasikan, sebab kondisi geografis wilayah Provinsi Sumatera Selatan, yang notabenenya merupakan daerah perairan.

Pembangunan rumah limas memang tidak boleh dilakukan sembarangan, selayaknya rumah adat pada umumnya, rumah limas dibuat dengan memperhatikan banyak aspek, terutama adat-istiadat.

Mengenal rumah adat limas
Photo: gosumatera.com

Pemilihan jenis kayu untuk membangun rumah limas pun wajib merujuk pada ketentuan adat, contohnya seperti pembuatan rangka rumah yang harus menggunakan kayu seru.

Simak Juga: Menyelisik Rumah Adat Mandar Suku Asli Sulawesi Barat

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, pasalnya dalam kebudayaan Bumi Sriwijaya, kayu seru dianggap “suci,” sehingga tidak boleh diinjak, dilangkahi, apalagi dijadikan sebagai lantai rumah.

Lantai, dinding, serta pintu rumahnya sendiri dibuat menggunakan material kayu tembesu. Sedang, pada bagian tiang rumah biasanya menggunakan kayu unglen yang terkenal tahan air.

Ada pula berbagai ornamen berupa ukiran yang terdapat pada pintu dan dinding rumah adat limas, biasanya berupa simbar atau tanduk.

Simbar dengan hiasan melati melambangkan mahkota, yang bermakna kerukunan terhadap masyarakat adat dan keagungan rumah adat limas.

Selain itu, salah satu ciri khas rumah adat limas, yang mungkin tidak dimiliki oleh rumah adat lain adalah adanya pembagian tingkatan pada rumah tersebut.

Lantas, bagaimana sih tingkatan yang terdapat pada rumah limas? Simak penjabarannya di bawah ini.

5 tingkatan pada rumah adat limas

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pembangunan rumah limas memang sarat akan nilai-nilai dan filosofi kebudayaan Sumatera Selatan, termasuk juga urusan pembagian tingkatan pada rumah.

Simak Juga: Mengenal Kebudayaan dan Rumah Adat Papua Sebagai Bagian Kekayaan Indonesia

Tiap ruangan diatur dengan menggunakan filosofi kekijing. Dalam kekijing terdapat 5 tingkat ruangan yang diatur berdasarkan kriteria tertentu, seperti usia, jenis kelamin, bakat, pangkat, dan martabat.

1. Trenggalung

Tingkatan pertama pada rumah adat limas disebut sebagai Trenggalung. Trenggalung adalah ruangan yang difungsikan untuk menerima tamu jika sedang berlangsung pesta atau hajat.

Pada ruangan pertama ini terdapat pagar yang membatasi area luar ruanga. Jika dilihat dari luar, areal dalam ruangan tidak terlihat, namun sebaliknya, orang dalam ruangan dapat melihat keadaan di luar.

Selain itu, terdapat sebuah pintu atau lawang yang jika dibuka akan membentuk langit-lagit ruangan, akan tetapi jika ditutup akan membentuk dinding dan selasar pada ruangan trenggalung.

Trenggulung
Photo: celticstown.com

2. Jagon

Berpindah ke tingkatan berikutnya pada rumah limas, terdapat sebauh ruangan yang disebut Jagon.

Jagon adalah ruangan yang dikhususkan bagi penghuni rumah yang berjenis kelamin laki-laki. Pada tingkat kedua inilah biasanya para pria berkumpul, sekaligus menjadi tempat bagi mereka untuk beristirahat.

3. Kekejing tiga

Tidak ditemukan nama khusus bagi ruangan atau lantai ketiga pada rumah adat limas ini. Namun, berbeda dengan dua lantai sebelumnya, di lantai ini biasanya terdapat sebuah penyekat sebagai pemisah ruangan.

Biasanya, tempat ini dikhususkan bagi tamu – khususnya bagi orang yang lanjut usia – yang berkunjung ke rumah ketika si pemilik rumah sedang mengadakan sebuah acara.

4. Kekejing empat

Sama halnya dengan kekejing ketiga, tidak ditemukan kata-kata khusus untuk menyebutkan tingkat keempat rumah limas ini. Kendati begitu, ruangan ini cukup penting bagi si pemilik rumah.

Simak Juga: Ini Dia Syarat Jual Beli Rumah yang Wajib Kamu Tau

Pasalnya, ruangan ini merupakan tempat khusus bagi orang-orang yang dihormati dan memiliki ikatan darah dengan sang empunya rumah.

Kekejing empat
Photo: celticstown.com

5. Gegajah

Tingkat terakhir atau kekejing kelima pada rumah adat limas disebut gegajah. Gegajah adalah ruang khusus bagi orang yang sangat dihormati dan memiliki kedudukan tinggi di keluarga dan masyarakta adat.

Sebagai ruangan yang paling luas pada rumah adat limas, gegajah memiliki setidaknya tiga ruang lain, yaitu pangkeng, amben tetuo, dan amben.

Fungsi dari ketiga ruangan ini tentu saja berbeda-beda, amben sendiri dapat dikatakan sebagai balai musyawarah, di sanalah tempat para tetua mengadakan musyawarah dan mengambil keputusan.

Ada pula amben tetuo, yang merupakan tempat bagi tuan rumah menerima tamu kehormatan. Serta, pangkeng atau kamar khusus bagi pengantin baru ketika tuan rumah mengadakan pesta pernikahan.

Garis keturunan asli masyarakat Palembang

Lho, kok berbicara soal garis keturunan, kan lagi ngomongin rumah adat?

Sabar dulu, ternyata tingkatan pada rumah adat limas dapat menandakan garus keturunanasli masyarakat Palembang, lho.

Terdapat tiga jenis garis keturunan atau kedudukan pada tatanan masyarakat Sumatera Selatan, yaitu Kiagus, Kemas atau Massagus, serta Raden. Berbeda kelas, berbeda pula tempat berkumpulnya.

Kiagus merupakan garis keturunan terendah, maka dari itu, tempat berkumpulnya Kiagus biasanya ada pada tingkat terendah pada rumah.

Selanjutnya, yang kedua adalah garis keturunan Kemas atau Massagus. Sedang, ketiga atau tertinggi adalah kaum Raden, yang juga menempati ruangan tertinggi pada rumah adat limas.

rumah adat limas
Photo: ceritaeka.com

Nah, itu tadi ulasan lengkap mengenai rumah limas, rumah adat asli masyarakat Sumatera Selatan. Menarik sekali bukan pembahasannya?

Sayangnya, saat ini pembangunan rumah limas di Sumatera Selatan semakin hari semakin jarang saja. Tidak heran, saat ini sulit sekali untuk menemukan rumah adat yang satu ini.

Hal ini disebabkan oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan apabila seseorang ingin membangun sebuah rumah limas.

Selain biaya, pembangunan rumah adat limas juga membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Bayangkan saja, sebuah rumah limas dapat dibangun dengan luas mencapai 400-1000 meter persegi. Luas sekali, bukan? Hehe.

About sibyllineorder.org

Check Also

Bentuk dan Bahan Rumah Adat Joglo

Rumah Adat Joglo: Gambaran Sakral Tempat Tinggal Para Dewa

Rumah Adat Joglo adalah salah satu rumah adat yang hingga saat ini masih jadi primadona …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *