Home / Hunian / Rumah Adat Joglo: Gambaran Sakral Tempat Tinggal Para Dewa

Rumah Adat Joglo: Gambaran Sakral Tempat Tinggal Para Dewa

Rumah Adat Joglo adalah salah satu rumah adat yang hingga saat ini masih jadi primadona di kalangan masyarakat pada umumnya.

Meski sudah jarang ditemukan Rumah Adat Joglo yang digunakan sebagai tempat tinggal, konsep Rumah Adat Joglo masih sering kita temukan pada bangunan-bangunan seperti hotel atau restoran.

Rumah Adat Joglo memang memeliki bentuk dan filosofi yang luhur juga agung. Tidak heran jika konsep-konsep yang dibawanya masih sering digunakan pada bangunan-bangunan di masa yang sudah modern ini.

Filososi Rumah Adat Joglo: Luhur, Megah, dan Agung

Tahu kah anda? Rumah Adat Joglo adalah representasi keagungan tempat tinggal para dewa. Pemberian nama Rumah Adat Joglo pada rumah adat Jawa Tengah ini syarat dengan berbagai macam makna.

Baca Juga: Mengenal Ragam Rumah Adat di Indonesia Yang Wajib Kamu Tahu

Kata Joglo diambil dari kata “tajug” dan “loro”. Makna dari kata itu adalah penggabungan dua tajug atau “dua tajug”. Atap rumah Joglo memang berbentuk tajug yang menyerupai sebuah gunung.

Masyarakat Jawa pada umumnya sangat percaya bahwa gunung merupakan sebuah simbol yang sakral. Menurut mereka, gunung adalah tempat tinggal para dewa. Karena hal itu lah, dua tajug dipilih sebagai bentuk atap Rumah Adat Joglo.

Atap Rumah Adat Joglo disangga dengan empat pilar utama yang disebut Saka Guru. Pilar-pilar itu adalah representasi dari kekuatan empat penjuru mata angin yaitu Timur, Selatan, Utara, dan Barat.

Hal ini memberi keyakinan bahwa berlindung di rumah dengan atap Saka Guru mampu menghindari terjadinya bencana. Tak hanya itu, jenis atap ini juga sebagai tanda bukti terimakasih dan pujian kepada Sang Guru.

Sebab konsep Rumah Adat Joglo yang begitu luhur dan megah ini, tidak semua orang bisa memilikinya. Rumah Adat Joglo pada jaman dahulu merupakan simbol status sosial dan hanya dimiliki oleh orang kaya.

Baca Juga: Seberapa Pentingnya Asuransi Rumah? Ini Dia Fungsi Utamanya

Memang bahan-bahan untuk membuat Rumah Adat Joglo jauh lebih mahal juga lebih banyak. Selain membutuhkan biaya yang besar, waktu yang dibutuhkan untuk membangun Rumah Adat Joglo juga lebih lama.

Karena hal itulah anggapan Rumah Adat Joglo hanya boleh dimiliki oleh bangsawan, raja, dan pangeran pun berkembang. Hingga masyarakat biasa yang memiliki penghasilan rendah tidak mampu dan tidak berani untuk membuatnya.

Bentuk dan Bahan Rumah Adat Joglo

Bentuk dan Bahan Rumah Adat Joglo

Rumah Adat Joglo berbentuk bujur sangkar dengan empat pokok tiang Saka Guru di tengahnya. Penopang tiang itu merupakan blandar bersusun yang dikenal dengan nama “tumpang sari”.

Seiring dengan perkembangan zaman, terdapat tambahan-tambahan dalam rumah Joglo ini. Akan tetapi, yang paling mendasar adalah rumah yang tetap berbentuk persegi.

Bahan utama pembuatan Rumah Adat Joglo adalah kayu. Jenisnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, umumnya, kayu yang digunakan adalah Sengon, Jati, serta batang pohon kelapa.

Jati adalah kayu yang paling sering digunakan. Hal ini dikarenakan keawetan, ketahanan, serta kekuatan kayu yang lebih tinggi ketimbang jenis kayu lainnya.

Bahkan, meski hanya menggunakan kayu Jati, Rumah Adat Joglo sejak zaman dahulu masih dapat bertahan hingga saat ini.

Pada bagian atap, Rumah Adat Joglo Jawa Tengah yang satu ini terbuat dari bahan genteng tanah liat. Selain genteng, masyarakat tradisional Jawa juga menggunakan jerami, ijuk, dan alang-alang dalam pembuatan atapnya.

Baca Juga: Menyelisik Rumah Adat Mandar Suku Asli Sulawesi Barat

Alasan penggunaan bahan-bahan alami untuk bagian atap rumah adalah demi kenyamanan dan rasa sejuk dalam ruangan yang ditempati.

Rumah Adat Joglo ini juga memiliki kelebihan pada sirkulasi udara yang sangat baik. hal ini disebabkan bentuk atap yang dibuat bertingkat-tingkat. Ketinggian atap Rumah Adat Joglo juga mempunyai hubungan dengan pergerakan udara yang dibutuhkan oleh penghuninya.

Ciri khas lain dari rumah adat ini adalah bentuk atap yang merupakan perpaduan antara dua bidang, yaitu atap segitiga dan trapesium. Kedua jenis atap ini mempunyai sudut kemiringan berbeda. Atap Rumah Adat Joglo terletak pada tengah rumah dan diapit oleh serambi.

Gabungan atap Rumah Adat Joglo ada dua jenis, yaitu atap Joglo Lambang Sari dan Atap Lambang Gantung. Lambang Sari merupakan jenis atap rumah Joglo yang disambung dengan atap pada serambi. Sedangkan Lambang Gantung adalah gabungan atap yang menyisakan lubang udara di bagian atap.

Desain rumah Joglo sendiri terdapat aturan khusus. Sehingga muncullah jenis rumah Joglo seperti Pangrawit, Limasan Lawakan, Jompongan, Mangkurat, Sinom, Hageng dan Tinandhu.

Bagian-bagian Rumah Adat Joglo

Rumah Adat Joglo terdiri atas tiga bagian yaitu pendapa (bagian depan), pringgitan (bagian tengah), dan dalem (ruang utama).

Baca Juga: Ini 6 Rumah Adat Sunda Yang Namanya Unik

Pada pembagian rumah ini, ada prinsip hierarki yang unik, yaitu bagian depan lebih bersifat umum, sedangkan bagian belakang lebih khusus lagi. Sehingga, akses orang yang bisa masuk ke dalam ruangan tertentu juga berbeda-beda.

Pendapa (Bagian Depan)

Letak pendapa ada di bagian depan rumah adat Joglo Jawa Tengah. Filosofi dari pendapa adalah menunjukkan bahwa orang Jawa bersifat ramah dan terbuka.

Supaya tamu dapat duduk di pendapa, maka biasanya dilengkapi dengan tikar. Hal ini dimaksudkan supaya tidak ada kesenjangan antara tamu dan juga pemilik rumah.

Pringgitan (Bagian Tengah)

Pada bagian Pringgitan biasanya digunakan untuk menggelar pertunjukan wayang. Terlebih jika ada acara Ruwatan.

Di tempat ini, pemilik rumah menyimbolkan diri sebagai Dewi Sri yang dianggap sebagai sumber kehidupan, kebahagiaan, dan juga kesuburan.

Dalem (Ruang Utama)

Pada bagian ini, terdapat kamar-kamar yang disebut dengan “senthong”. Dahulu, senthong hanya dibuat sebanyak tiga bilik saja. Kamar yang pertama dibuat bagi keluarga laki-laki, kamar kedua dikosongkan, sedangkan kamar ketiga bagi keluarga perempuan.

Nah, alasan mengapa kamar kedua dikosongkan adalah karena digunakan untuk menimpang pusaka untuk pemujaan pada Dewi Sri.

Kamar ini disebut dengan “krobongan” dan dianggap sebagai bagian rumah yang paling suci. Meski kamar dikosongkan, tapi tetap diisi dengan berbagai perlengkapan tidur.

Krobongan juga biasa digunakan untuk pengantin baru. Masyarakat yang baru saja menikah tidak akan bercampur dengan saudara lainnya.

Rumah Adat Joglo sarat akan makna filosofi yang tinggi, sehingga sekecil apapun bagiannya, akan mengandung nilai moral dan mencerminkan kepribadian masyarakat Jawa.

4 Keunikan Arsitektur Rumah Adat Joglo Yang Filosofis

Setiap rumah adat pasti memiliki berbagai keunikan tersendiri yang menjadi alat pembeda dengan jenis rumah tradisional lainnya. Rumah Adat Joglo juga memiliki beberapa keunikan akan arsitekturnya. Apa saja kah itu?

1. Terdapat Pager Mangkok

Mendengar dari namanya saja pasti membuat anda bertanya-tanya, dalam Bahasa Indonesia pager sama halnya dengan pagar. Rumah Joglo ini memiliki pagar khas yang dikenal sebagai pager mangkok.

Kebanyakan pagar pasti terbuat dari bilahan bambu atau kayu yang disusun mengelilingi rumah.

Lain dengan pagar yang ada di rumah adat Joglo ini, pagar ini di buat dari tanaman perdu dengan ketinggian tidak mencapai 1 meter. Hal ini lah yang dinamakan sebagai Pager Mangkok yang memiliki makna rumah sebaiknya tidak di pagar, agar masyarakat saling membaur.

2. Pintu Utama Di Tengah Rumah

Desain ini lah yang menjadi salah satu ciri khas dari rumah adat Joglo. Tata letak pintu utama selalu di buat di bagian tengah rumah.

Posisi pintu ini selalu sejajar dengan ruangan bagian belakang. Jadi jika anda tamu yang berkunjung, akan langsung melihat ruangan belakang dari rumah ini.

Sama dengan bagian bangunan yang lain, pintu utama yang di pasang di tengah rumah ini juga memiliki filosofi.

Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat jawa memiliki sikap keterbukaan antara satu dengan lainnya. Masyarakat jawa dengan senang hati menerima tamu, bahkan menyuruh tamunya menganggap seperti rumah sendiri.

3. Teras Dengan Empat Tiang

Pada bangunan depan rumah adat Joglo pasti ada teras yang luas. Teras pada halaman ini memiliki empat tiang dengan bentuk segiempat yang memanjang.

Orang Jawa memiliki rasa kekeluargaan tinggi oleh sebab itu mereka membangun teras ini sebagai tempat berkumpul dengan orang lain.

Pada zaman dahulu, belum ada hiburan berupa televisi atau handphone. Sehingga berkumpul dengan keluarga atau tetangga menjadi hiburan tersendiri yang sangat mengasyikkan.

Bangunan teras ini memiliki makna bahwa sesama saudara atau tetangga harus selalu membangun hubungan yang baik dan bersosial.

4. Memiliki Jendela Yang Banyak Dan Besar

Rumah adat Joglo terkenal memiliki jumlah jendela yang banyak dengan ukuran yang besar. Desain pada jendela rumah ini merupakan warisan Belanda yang di kembangkan oleh perancang jawa.

Rumah Adat Joglo memiliki jendela yang jumlahnya hingga puluhan jika dihitung total dari bagian depan, belakang, kanan, dan kiri rumah.

Ditambah dengan ukuran jendela yang besar, sehingga udara yang masuk lebih banyak. Oleh sebab itu, suasana di dalam ruangan rumah Joglo ini sangatlah segar dan nyaman untuk ditinggali.

Itulah ulasan tentang Rumah Adat Joglo yang diibaratkan sebagai tempat tinggal para dewa. Meski terbilang luhur dan agung, Rumah Adat Joglo juga mengedepankan sifat rendah hati dan kekeluargaan yang kuat.

About sibyllineorder.org

Check Also

rumah adat baduy

Rumah Adat Baduy: Harmonisasi antara Alam, Manusia, dan Kesederhanaan

Negara Indonesia dianugerahi berbagai macam suku dan budaya. Setiap suku melahirkan peninggalan budaya yang berbeda, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *